Dampak Tarif Impor Terhadap Harga Produk Konsumen di AS

tarif impor
Sumber Foto : Freepik

Tarif impor kembali menjadi sorotan. Banyak pihak mempertanyakan seberapa besar konsumen yang akhirnya menanggung beban kebijakan ini. Meski perhitungannya tidak mudah, dampaknya terhadap harga barang tetap bisa diperkirakan.

Menurut model yang disusun oleh AlixPartners untuk CNBC, tarif impor dapat memengaruhi harga produk pakaian dan alas kaki yang diproduksi di Tiongkok dan Vietnam. Misalnya, sweater pria dan sepatu pria dapat mengalami kenaikan harga yang signifikan jika tarif baru diterapkan sepenuhnya.

Kenaikan Harga Barang Konsumen Akibat Tarif Baru

Jika tarif impor saat ini sebesar 30% diterapkan pada sweater dan sepatu pria asal Tiongkok, harga bisa naik sekitar 19%. Bila tarif mencapai 145%, harga produk serupa bisa melonjak hingga 90%.

Produk dari Vietnam pun terkena imbas. Tarif saat ini sebesar 10% menyebabkan harga naik sekitar 8%. Namun jika tarif naik menjadi 46%, harga sweater dan sepatu pria dapat naik sekitar 35%.

Model perhitungan ini dibuat tanpa mempertimbangkan strategi efisiensi atau pengalihan beban biaya. Diasumsikan bahwa retailer tetap mempertahankan margin keuntungan yang sama dan langsung membebankan tarif kepada konsumen.

Contoh Perhitungan Harga Sweater dan Sepatu

Sebelum 2 April, sweater katun pria buatan Tiongkok memiliki harga produksi sekitar $6,80. Tarif dan bea masuk mencapai $2,82. Ditambah ongkos logistik sebesar 95 sen, total biaya menjadi $10,57. Dengan margin laba kotor 65%, harga jual eceran menjadi $30.

Setelah tarif diberlakukan, harga naik menjadi $35,79—kenaikan 19%. Jika tarif tertinggi 145% diterapkan, harga bisa melonjak ke $57,97 atau naik 93%.

Untuk sepatu pria buatan Vietnam, biaya produksi awalnya $29,50. Bea masuk sebesar 20% menambah $5,90, dan logistik $2,36. Total biaya menjadi $37,76. Dengan margin 60%, harga jual eceran mencapai $95. Jika tarif dinaikkan, harga bisa mencapai $129,14—kenaikan 36% dari harga awal.

Strategi Retailer Menghadapi Tarif

Meski tekanan tarif tinggi, banyak perusahaan ritel besar berupaya menahan laju kenaikan harga. Misalnya, Target menyatakan bahwa menaikkan harga adalah opsi terakhir. Beberapa strategi yang dilakukan meliputi relokasi produksi, negosiasi dengan pemasok, serta penyesuaian desain produk.

Namun, Walmart dan sejumlah ritel lain menegaskan tidak mungkin menyerap seluruh biaya tarif. Apalagi, margin laba operasional rata-rata hanya sekitar 5%.

Model ekonomi dari Penn Wharton menunjukkan bahwa meski tarif dibagi antara produsen dan konsumen, tetap ada dampak negatif seperti pemutusan hubungan kerja dan penurunan PDB.

Sementara itu, sebagian besar ritel besar memilih pendekatan portofolio. Artinya, mereka menyebar beban tarif ke produk lain yang tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga.


Kebijakan tarif impor memberikan dampak nyata terhadap harga barang konsumen. Meski perusahaan berupaya menahan dampaknya, konsumen tetap harus waspada terhadap potensi kenaikan harga.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : cnbc.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *