PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat pasokan biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala. Langkah ini melibatkan masyarakat sekitar dan bertujuan mendukung transisi energi nasional menuju sumber yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Menurut Officer Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Khalda Az Zahra, PLTU Adipala saat ini telah menggunakan campuran biomassa sebesar 3–5% untuk menekan pemakaian batu bara. Sebagian pasokan diperoleh dari limbah serbuk kayu industri di sekitar pembangkit.
Namun, untuk memastikan ketersediaan jangka panjang, PLN EPI mendorong masyarakat menanam tanaman energi secara mandiri. “Kami khawatir pasokannya tidak berkelanjutan. Karena itu, kami membangun rantai suplai biomassa dari masyarakat sendiri,” ujar Khalda pada Rabu (20/5/2025).
Pemberdayaan Masyarakat dan Dukungan Ekonomi Lokal
Pengembangan ekosistem biomassa ini juga berdampak langsung pada peningkatan ekonomi warga. Melalui sistem tumpang sari, petani tetap bisa menanam tanaman pangan sambil membudidayakan Kaliandra atau Gamal. Selain menghasilkan biomassa, daun tanaman ini juga bermanfaat sebagai pakan ternak.
Setiap panen, tanaman energi dapat menghasilkan 6–10 kg biomassa. Hasilnya dikumpulkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang kemudian menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.
Fasilitas produksi biomassa yang dikelola BUMDes juga menyerap tenaga kerja lokal. Misalnya, BUMDes Semar Keleng di Desa Keleng, Kecamatan Kesugihan. Mereka mengelola fasilitas produksi biomassa kayu berkapasitas 4 ton per hari dan mempekerjakan 20 orang warga setempat.
Sejak 2023, PLN EPI dan Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menanam sekitar 216.000 tanaman energi di atas lahan seluas 106 hektare. Lokasi pengembangan tersebar di tiga kecamatan: Kawunganten, Jeruklegi, dan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Tanaman energi tersebut sebagian telah siap panen dan akan diolah menjadi biomassa.
Ke depan, PLN EPI dan IPB akan memperluas lahan tanaman energi sebesar 90 hektare lagi. Target produksi mencapai 1.000–2.000 ton biomassa per bulan. Dengan kapasitas ini, diharapkan PLTU Adipala dapat menyerap hingga 42.000 ton biomassa per tahun. Upaya tersebut dapat menurunkan emisi karbon sebesar 48.531,47 ton CO₂ per tahun.
Dosen Silvikultur IPB, Andi Sukendro, menyatakan bahwa pendekatan agroforestri memberi nilai ganda. Selain menggantikan batu bara, tanaman energi juga mendukung ketahanan pangan dan ekonomi desa. “Kami menyiapkan transisi energi yang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga menguntungkan masyarakat,” ungkapnya.
Ingin tahu lebih banyak strategi keberlanjutan dan energi masa depan? Temukan artikel menarik lainnya di sini: roledu.com/artikel
Sumber : liputan6.com






