Nissan Pertahankan Pabrik Sunderland, Siap Produksi Mobil Dongfeng

produksi mobil Dongfeng
Sumber Foto : Freepik

Ivan Espinosa, CEO baru Nissan, memastikan bahwa pabrik Sunderland di Inggris tidak akan ditutup. Padahal, Nissan tengah memangkas biaya secara besar-besaran dan menutup tujuh pabrik lainnya di dunia. Espinosa juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan Tiongkok, Dongfeng, untuk produksi mobil di sana.

Pabrik Sunderland merupakan satu-satunya fasilitas Nissan di Eropa. Pabrik ini juga menjadi pabrik mobil terbesar di Inggris dengan sekitar 6.000 karyawan.

Rencana Produksi Mobil Dongfeng dan Mobil Listrik Baru

Nissan dan Dongfeng sebelumnya sudah bekerja sama di Wuhan, Tiongkok. Espinosa menyatakan terbuka untuk memperluas kerja sama itu ke luar negeri, termasuk memproduksi mobil Dongfeng di Inggris.

Menurutnya, kolaborasi ini bisa mengisi kapasitas kosong dan meningkatkan produktivitas. Kapasitas pabrik Sunderland mencapai 600.000 unit per tahun, namun pada 2024 hanya menghasilkan 282.000 unit. Itu berarti turun 14% dari tahun sebelumnya.

Untuk menyeimbangkan kapasitas, Nissan juga akan meluncurkan dua model mobil listrik baru di sana.

Nissan Hadapi Kerugian Besar dan Tantangan Global

Espinosa memperkirakan Nissan bisa merugi hingga £4 miliar tahun ini. Masalah ini diperburuk oleh tarif impor 25% yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump di AS. Ia menyebut Nissan siap menerima investasi, termasuk dari perusahaan teknologi. Tapi, Nissan ingin tetap independen dan tidak bergantung pada satu mitra saja.

Nissan juga sempat mempertimbangkan merger dengan Honda. Namun, Espinosa menilai masalah utama bermula sejak 2015. Saat itu, di bawah Carlos Ghosn, Nissan menargetkan produksi 8 juta unit per tahun. Pada kenyataannya, produksi 2024 hanya mencapai 3,1 juta unit.

Permintaan Dukungan Pemerintah dan Isu Energi

Walau tetap mempertahankan pabrik di Inggris, Espinosa menyebut Nissan butuh dukungan pemerintah. Terutama dalam hal biaya energi, yang lebih mahal dibanding negara Eropa lainnya. Banyak produsen mobil kini meminta subsidi atau pelonggaran aturan untuk bertahan.

Dalam konferensi yang sama, CEO Stellantis dan Renault juga menyuarakan hal serupa. Mereka mendorong Uni Eropa memperpanjang masa edar mobil hybrid. CEO Renault, Luca de Meo, menyarankan agar penilaian emisi dilihat dari siklus hidup kendaraan. Bukan hanya dari gas buang saat berkendara.


Baca juga artikel menarik lainnya seputar bisnis otomotif dan strategi digital di sini: roledu.com/artikel

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *