Harga minyak mentah berjangka Brent mengalami penurunan setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis $100 per barel. Koreksi ini terjadi di tengah sentimen pasar yang merespons kabar perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Pergerakan ini menunjukkan volatilitas tinggi di pasar energi global, di mana harga sempat terdorong naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Namun, tekanan tersebut mereda setelah muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik.
Lonjakan dan Koreksi Harga dalam Waktu Singkat
Sebelumnya, harga minyak Brent sempat mengalami penguatan tajam hingga menembus batas $100 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu distribusi minyak global, khususnya melalui jalur strategis perdagangan energi.
Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Setelah kabar mengenai perpanjangan ceasefire Iran-AS beredar, pasar mulai melakukan aksi ambil untung sehingga harga kembali terkoreksi.
Sentimen Geopolitik Masih Jadi Penggerak Utama
Fluktuasi futures Brent oil menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan politik dan keamanan di Timur Tengah. Setiap perubahan kecil dalam tensi geopolitik langsung tercermin pada pergerakan harga energi global.
Meski demikian, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena situasi di kawasan tersebut dinilai belum sepenuhnya stabil. Risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan harga minyak ke depan.
Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada keberlanjutan kesepakatan gencatan senjata serta perkembangan negosiasi antara pihak-pihak terkait.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com





