Industri Otomotif Inggris Desak Kejelasan Status “Made in EU” di Aturan Baru Uni Eropa

Otomotif Inggris
Sumber Foto ; Canva

Pelaku industri otomotif Inggris melalui Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) meminta kejelasan segera terkait apakah Inggris akan masuk dalam kategori “Made in EU” dalam kebijakan baru Industrial Accelerator Act (IAA) Uni Eropa. Ketidakpastian dalam kebijakan Made in EU ini dinilai berpotensi menunda keputusan investasi besar di sektor otomotif. Kondisi ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya persaingan global, terutama dari produsen kendaraan listrik murah asal China.

SMMT menegaskan bahwa industri membutuhkan kepastian politik sebelum keputusan final aturan tersebut diadopsi, yang bisa memakan waktu hingga satu tahun. Organisasi itu juga mendorong adanya pernyataan lebih awal, idealnya sebelum pertemuan puncak Uni Eropa–Inggris yang dijadwalkan berlangsung pada Juni atau Juli mendatang.

Nilai Perdagangan dan Dampak Ketidakpastian

Hubungan dagang otomotif antara Inggris dan Uni Eropa tercatat bernilai sekitar 80 miliar euro atau setara 94,34 miliar dolar AS per tahun. Keduanya juga masih menjadi pasar kendaraan penumpang terbesar satu sama lain. Inggris bahkan disebut sebagai pembeli komponen otomotif terbesar dari Uni Eropa.

Dalam industri otomotif Inggris, ketidakjelasan status ini dianggap dapat menciptakan tekanan serius bagi rencana ekspansi dan investasi jangka panjang. Pelaku usaha menilai sulit menyusun strategi bisnis jika aturan masa depan belum memiliki kepastian.

Kebijakan Industrial Accelerator Act (IAA) sendiri dirancang untuk memperkuat daya saing industri Eropa melalui persyaratan rendah karbon dan ketentuan “Made in EU” dalam pengadaan publik serta subsidi sektor industri. Cakupan aturan ini meliputi aluminium, semen, baja, energi terbarukan, hingga teknologi hijau.

Dalam draf awal, negara yang memiliki perjanjian dagang dengan Uni Eropa berpotensi dimasukkan dalam kategori “Made in EU”. Namun, detail pengecualian baru akan diumumkan setelah aturan disahkan. Untuk sektor otomotif, terdapat kemungkinan syarat tambahan berupa perakitan kendaraan di dalam wilayah Uni Eropa, yang dapat berdampak langsung pada produsen asal Inggris.

CEO SMMT, Michael Hawes, menegaskan bahwa tujuan awal kebijakan ini adalah memperkuat daya saing industri Eropa, bukan mengganggu hubungan dagang dengan Inggris. Namun, tanpa kepastian yang jelas, investasi di sektor otomotif Inggris berisiko tertahan.

Di sisi lain, industri otomotif Eropa saat ini juga menghadapi tekanan besar dari meningkatnya penetrasi kendaraan listrik murah asal China. Situasi ini membuat industri otomotif Inggris dan Eropa semakin membutuhkan kejelasan regulasi agar dapat bersaing secara efektif di pasar global.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *