Saham Nike anjlok tajam setelah perusahaan mengungkap proyeksi penjualan kuartal berjalan yang melemah, dipicu tekanan di pasar China dan dampak konflik Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan Rabu, saham Nike turun 15,5% ke level US$44,63, menjadi titik terendah dalam lebih dari 10 tahun.
Penurunan ini terjadi di tengah upaya pemulihan bisnis Nike yang masih tersendat. Perusahaan memperkirakan penjualan di China merosot hingga 20%, menandai penurunan kedelapan berturut-turut di salah satu pasar terpentingnya.
CEO Elliott Hill mengakui proses perbaikan kinerja membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. Ia memimpin transformasi sejak 2024 dengan fokus pada efisiensi operasional dan penguatan lini produk utama.
Tekanan Bertubi-tubi dari Pasar Global
Selain China, tekanan juga datang dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA). Konflik geopolitik di Timur Tengah mengganggu aktivitas belanja konsumen, sekaligus meningkatkan risiko penumpukan stok.
Chief Financial Officer Matthew Friend menyebut kondisi tersebut berdampak langsung pada lalu lintas toko dan performa penjualan di kawasan tersebut.
Di sisi lain, ketergantungan Nike pada basis produksi di Asia Tenggara turut menjadi beban. Kebijakan tarif impor Amerika Serikat terhadap negara seperti Vietnam membuat biaya operasional meningkat.
Kompetisi dan Strategi yang Tertinggal
Nike juga menghadapi persaingan ketat dari merek lokal China seperti Anta dan Li Ning, yang dinilai lebih dekat dengan preferensi konsumen domestik.
Sejumlah analis menilai pemulihan berjalan lambat akibat kombinasi kesalahan strategi di masa lalu dan minimnya inovasi produk. Kondisi ini membuat posisi Nike semakin tertekan di pasar global.
Meski demikian, perusahaan mencatat pertumbuhan lebih dari 20% pada kategori lari, seiring fokus baru pada produk inti. Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki margin dan mengembalikan kepercayaan investor.
Namun, pasar belum sepenuhnya yakin. Valuasi saham Nike masih relatif tinggi dibanding pesaing seperti Adidas dan Under Armour, sementara harga sahamnya telah merosot sekitar 71% sejak mencapai puncak pada November 2021.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com