China Airlines Bersiap Hadapi Kerugian Tahun Ini karena Harga Bahan Bakar Melonjak

Tiga maskapai besar milik negara China—China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Air China—menyatakan berhati-hati menghadapi prospek 2026. Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Iran membuat ketiganya kembali mencatat kerugian pada kuartal keempat 2025.

China Southern mengalami kerugian 1,3 miliar yuan (sekitar 188,2 juta dolar AS) meski mencatat keuntungan tahunan penuh, sementara China Eastern merugi 3,7 miliar yuan dan Air China 3,64 miliar yuan di periode yang sama. Ketiga maskapai menyoroti peran pasar internasional sebagai pendorong pertumbuhan, dengan China Eastern mencatat kenaikan 22,7% lalu lintas penumpang internasional, China Southern 19,6%, dan Air China 15% sepanjang 2025. Namun, kuartal terakhir menghadapi tekanan akibat pengurangan kapasitas ke Jepang menyusul peringatan perjalanan pemerintah pada pertengahan November, termasuk kebijakan pengembalian tiket gratis.

Lonjakan Biaya Bahan Bakar dan Tantangan Pasar Domestik

Industri penerbangan China menghadapi tekanan ganda: kelebihan kapasitas di pasar domestik dan ketidakpastian geopolitik global. Selama libur Festival Musim Semi, maskapai China mengangkut 94 juta penumpang, naik 4,7% dibanding tahun sebelumnya, namun kenaikan biaya bahan bakar diprediksi menekan margin keuntungan. Sebelum konflik Iran, industri global menargetkan laba rekor 41 miliar dolar AS pada 2026, namun harga bahan bakar yang lebih dari dua kali lipat mengubah strategi dan jaringan penerbangan maskapai.

China Eastern menjadi satu-satunya dari “Big Three” yang mengelola risiko bahan bakar melalui lindung nilai (hedging) pada 2025, dengan posisi lindung nilai 500.000 barel yang akan berakhir pada 2026. Analisis internal menunjukkan pergerakan 5% harga bahan bakar rata-rata bisa memengaruhi laba hingga 2,2 miliar yuan. Menurut HSBC, bahan bakar menyumbang 35–38% dari biaya operasional tri-maskapai ini, dan mekanisme tambahan biaya bahan bakar di China cenderung terlambat menyesuaikan harga tiket, sehingga kenaikan minyak diperkirakan memangkas margin.

Para analis memproyeksikan kerugian akan lebih dalam pada 2026 sebelum maskapai kembali mencatat keuntungan pada 2027. Ketiga maskapai juga terus menerima pesawat C919 buatan dalam negeri dari COMAC, meski jumlah pengiriman pada 2025 lebih rendah dari target; China Southern menyesuaikan target pengiriman 2026 menjadi 13 unit, sementara China Eastern dan Air China tetap memproyeksikan 10 unit.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *