Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin memicu kekhawatiran di pasar tenaga kerja. Namun, pendiri Microsoft Bill Gates menilai hanya beberapa profesi yang memiliki daya tahan tinggi terhadap disrupsi AI dalam satu dekade ke depan.
Kekhawatiran tersebut tercermin dari survei YouGov yang dilakukan atas permintaan National Foundation for Educational Research (NFER). Hasilnya, sebanyak 53% pekerja percaya bahwa otomatisasi dan AI akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam 10 tahun mendatang. Sementara itu, 32% responden menilai dampaknya relatif kecil.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran disrupsi AI, Gates mengidentifikasi tiga bidang pekerjaan yang dinilai tetap relevan dan sulit tergantikan teknologi.
Profesi yang Tahan Disrupsi AI
Pertama adalah bidang biologi. Menurut Gates, meskipun AI mampu membantu riset, kompleksitas sistem biologis tetap membutuhkan pemahaman mendalam, intuisi, dan kreativitas manusia. Proses analisis ilmiah juga masih sangat bergantung pada interpretasi manusia.
Kedua, sektor energi. Industri ini dinilai membutuhkan pengambilan keputusan dengan risiko tinggi, baik dalam pengelolaan energi fosil, nuklir, maupun energi terbarukan. Faktor keselamatan serta dinamika kebutuhan energi global membuat peran manusia tetap vital, terutama dalam situasi krisis.
Ketiga, profesi programmer. Walau AI kini dapat menghasilkan kode secara otomatis, peran manusia tetap dibutuhkan untuk merancang sistem, mengawasi kinerja, serta memperbaiki kesalahan teknis yang muncul.
Pekerjaan dengan Risiko Tinggi
Di sisi lain, sejumlah profesi dinilai lebih rentan terdampak disrupsi AI. Laporan Microsoft pada 2025 menyebut pekerjaan seperti penerjemah, juru bahasa, sejarawan, matematikawan, editor, hingga jurnalis memiliki tingkat tumpang tindih yang tinggi dengan kemampuan AI.
Meski demikian, peneliti senior Microsoft, Kiran Tomlinson, menegaskan bahwa temuan tersebut tidak berarti AI akan sepenuhnya menggantikan manusia. Studi tersebut lebih menyoroti bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Dengan kata lain, AI bukan semata ancaman, melainkan alat yang akan mengubah cara kerja di berbagai sektor. Adaptasi dan peningkatan keterampilan menjadi kunci agar tenaga kerja tetap relevan di era disrupsi AI.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com






