Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberi tekanan pada pariwisata global. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus perjalanan wisata internasional, termasuk kunjungan wisatawan ke Indonesia.
Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menilai bahwa wisatawan dari kawasan Eropa menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Situasi keamanan dan pembatasan jalur penerbangan membuat sebagian perjalanan udara tidak dapat beroperasi secara normal.
Ketua Umum GIPI, Hariyadi Sukamdani, mengatakan bahwa wisatawan dari Eropa dan wilayah timur Amerika Serikat kemungkinan mengalami kesulitan melakukan perjalanan udara. Kondisi tersebut juga memengaruhi penerbangan menuju Afrika.
Menurutnya, pembatasan rute penerbangan akibat konflik geopolitik dapat menghambat mobilitas wisatawan internasional yang selama ini menjadi salah satu penopang bisnis pariwisata.
Penurunan Bisnis Pariwisata Berpotensi Capai 30%
Hariyadi memperkirakan dampak konflik Timur Tengah terhadap bisnis pariwisata bisa cukup signifikan. Jika situasi geopolitik berlangsung dalam waktu lama, penurunan sektor ini dapat mencapai sekitar 20% hingga 30%.
Perkiraan tersebut didasarkan pada pengalaman industri pariwisata saat konflik Rusia dan Ukraina berlangsung beberapa tahun lalu. Ketika konflik berkepanjangan, minat perjalanan wisata cenderung menurun karena faktor keamanan dan keterbatasan akses transportasi.
Selain itu, kawasan Timur Tengah memiliki sejumlah maskapai besar yang selama ini menjadi penghubung utama perjalanan antarnegara. Maskapai seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways memiliki jaringan penerbangan luas yang menghubungkan Eropa, Asia, hingga Afrika.
Gangguan pada jalur penerbangan tersebut berpotensi mengurangi jumlah wisatawan yang datang dari kawasan Eropa. Hal ini tentu berdampak pada pariwisata global, termasuk sektor pariwisata Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri berharap perjalanan wisata domestik dapat membantu menjaga stabilitas sektor pariwisata. Meski demikian, Hariyadi menilai tantangan tetap besar karena pariwisata bukan termasuk kebutuhan utama masyarakat.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com