Citi Research baru‑baru ini menaikkan target harga aluminium untuk kontrak 0–3 bulan di London Metal Exchange (LME) menjadi USD 3.600 per metrik ton, meningkat dari sebelumnya USD 3.400. Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap harga aluminium jangka pendek akibat gangguan pasokan global.
Alasan Di Balik Penyesuaian Target
Menurut analis Citi, gangguan pada rantai pasokan akibat konflik di kawasan Timur Tengah telah berubah dari sekadar risiko pasar menjadi realitas yang nyata. Dua produsen aluminium di wilayah Teluk, termasuk Aluminium Bahrain (Alba), telah mengumumkan force majeure, yang berarti mereka tidak dapat memenuhi kontrak pengiriman karena masalah logistik di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan aluminium akan semakin ketat dalam beberapa minggu mendatang. Sebagai dampaknya, target harga aluminium Citi untuk tiga bulan ke depan disesuaikan ke posisi yang lebih tinggi.
Potensi Harga dalam Skenario Bullish
Citi juga menyoroti kemungkinan bahwa jika gangguan pasokan terus memburuk atau berlangsung lebih lama, harga aluminium dapat merangkak lebih jauh, bahkan mendekati USD 4.000 per metrik ton dalam kondisi skenario bullish. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pada pasar logam bukanlah sesuatu yang sederhana atau sementara.
Dampak di Pasar Logam Global
Harga aluminium pada kontrak tiga bulan berada di level tertinggi hampir empat tahun, karena pergerakan pasar yang sangat sensitif terhadap berita tentang masalah pemasokan dan ketidakpastian geopolitik. Situasi di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasokan aluminium, tetapi secara luas menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan logam di berbagai penjuru dunia.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com