Amazon resmi mengumumkan bahwa belanja modal (CapEx) tahun 2026 akan naik lebih dari 50%, menembus angka sekitar US$200 miliar. Lonjakan ini menandai fokus perusahaan untuk memperkuat investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), pusat data cloud, robotika, chip khusus, dan teknologi satelit. Strategi ini ditujukan untuk memperluas kapasitas layanan dan menjaga daya saing di era teknologi tinggi.
Laporan keuangan kuartal keempat menunjukkan pendapatan Amazon mencapai US$213,4 miliar dengan laba bersih US$21,2 miliar. Meski meningkat, laba per saham sedikit di bawah ekspektasi analis, yang menambah tekanan pada sentimen pasar.
Saham Amazon Turun, Investor Khawatir
Pasar merespons pengumuman ini dengan penurunan saham Amazon sebesar 8–11% di perdagangan pasca bursa. Kekhawatiran utama investor adalah kemungkinan profitabilitas jangka pendek terdampak akibat pengeluaran besar ini. Saham Amazon menjadi salah satu yang paling tertekan di Dow Jones pada hari pengumuman.
Para analis menyoroti bahwa alokasi dana besar untuk ekspansi teknologi sering kali menunda pengembalian keuntungan. Meskipun layanan cloud Amazon (AWS) masih tumbuh kuat, belanja modal yang masif menuntut sebagian besar arus kas dialokasikan untuk investasi infrastruktur dan AI.
Fokus Jangka Panjang: AI dan Pusat Data
Amazon menekankan bahwa dana tambahan akan digunakan untuk membangun kapasitas AI dan pusat data, serta mengembangkan chip dan robotika canggih. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat layanan cloud.
Walaupun belanja modal tinggi memengaruhi sentimen pasar jangka pendek, strategi ini dinilai penting untuk menjaga posisi Amazon di persaingan global teknologi AI. Analis memperkirakan efek positif belanja ini akan terlihat beberapa tahun ke depan, seiring adopsi teknologi baru yang lebih luas.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






