Pengembangan energi fusi nuklir kembali mencatat babak baru. Tim peneliti China di fasilitas Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) mengumumkan keberhasilan menjalankan reaktor fusi secara stabil pada tingkat kepadatan plasma yang sangat tinggi.
Reaktor EAST, yang sering dijuluki reaktor matahari buatan, memanfaatkan medan magnet superkuat untuk menahan plasma bersuhu ekstrem. Dalam laporan yang dikutip dari Futurism, Sabtu (10/1/2026), para ilmuwan menyebut hasil ini sebagai lompatan penting menuju reaktor fusi yang lebih efisien dan ekonomis.
Temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances dan langsung menarik perhatian komunitas riset global.
Batas Teori Lama Berhasil Dilewati
Selama puluhan tahun, pengembangan tokamak dibatasi oleh konsep yang dikenal sebagai Batas Greenwald. Aturan ini menetapkan ambang kepadatan plasma maksimum. Jika dilewati, reaksi fusi biasanya menjadi tidak stabil dan terhenti.
Eksperimen di EAST membuktikan sebaliknya. Para peneliti berhasil mempertahankan operasi reaktor meski kepadatan plasma melampaui batas tersebut. Kondisi baru ini disebut sebagai density-free regime, yaitu fase di mana plasma tetap terkendali tanpa gangguan besar.
Keberhasilan ini dicapai melalui pendekatan plasma-wall self organization (PWSO). Tim peneliti mengatur tekanan gas dan pemanasan awal secara presisi menggunakan gelombang mikro dengan teknik electron cyclotron resonance heating.
Strategi ini memungkinkan plasma panas berinteraksi lebih stabil dengan dinding logam reaktor. Gangguan energi yang biasanya muncul pada kepadatan tinggi dapat ditekan sejak awal.
Jalan Baru Menuju Energi Fusi yang Lebih Murah
Dalam sistem energi fusi nuklir, peningkatan kepadatan plasma berbanding lurus dengan output energi. Artinya, semakin padat plasma, semakin besar listrik yang bisa dihasilkan.
Dengan kemampuan beroperasi stabil di densitas tinggi, reaktor masa depan berpotensi menghasilkan daya lebih besar tanpa memperbesar ukuran atau kompleksitas fasilitas. Efisiensi ini diyakini dapat memangkas biaya produksi listrik fusi secara signifikan.
Profesor Ping Zhu, salah satu pemimpin riset EAST, menyebut pencapaian ini sebagai fondasi praktis bagi pengembangan tokamak generasi berikutnya. Menurutnya, metode ini dapat diterapkan pada skema operasi berdaya tinggi.
Tahap selanjutnya adalah menguji kestabilan reaktor saat dijalankan mendekati kapasitas maksimum, hingga mencapai fase ignition atau penyalaan mandiri.
Minat global terhadap reaktor matahari buatan pun terus meningkat. Sejumlah perusahaan teknologi mulai melirik fusi sebagai sumber listrik masa depan, termasuk Microsoft yang telah menandatangani kesepakatan pembelian listrik fusi dari Helion Energy mulai 2028.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.