Asda, supermarket terbesar ketiga di Inggris, memproyeksikan penjualan kuartal ketiga akan terdampak oleh gangguan teknis akibat tahap akhir pemisahan sistem IT dari mantan pemiliknya, Walmart. Proyek pemisahan yang dimulai sejak akuisisi oleh Zuber dan Mohsin Issa serta TDR Capital pada 2021, melibatkan lebih dari 2.500 sistem.
Pada pekan ini, seluruh toko, gudang, dan kantor resmi beroperasi menggunakan teknologi milik Asda. Meski sukses, peralihan itu sempat menimbulkan hambatan pada ketersediaan produk dan layanan daring. “Tingkat penyelesaian yang tinggi memang sempat mengganggu, dan ini akan berdampak pada hasil penjualan kuartal berjalan,” ujar Allan Leighton, Ketua Eksekutif Asda. Ia menyebut proyek ini sebagai salah satu perubahan sistem IT terbesar di Eropa.
Kinerja dan Strategi Harga
Pada kuartal II yang berakhir 30 Juni, penjualan Asda turun tipis 0,2%, membaik dibanding penurunan 3,1% pada kuartal sebelumnya. Peningkatan ini didorong penurunan harga dan ketersediaan produk yang mencapai 96%, level tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Leighton, yang kembali ke Asda pada November lalu, menargetkan harga 5–10% lebih rendah dari pesaing meski berdampak pada laba. Kekhawatiran akan perang harga sempat menekan saham Tesco dan Sainsbury’s, namun kondisi itu tidak terjadi. Kedua pesaing justru mencatat hasil positif.
Data industri terbaru menunjukkan penjualan Asda turun 2,6% dalam 12 minggu hingga 10 Agustus secara tahunan. Pangsa pasarnya menyusut 0,9 poin menjadi 11,8%. Meski demikian, Leighton optimistis Asda akan menutup tahun dengan pertumbuhan penjualan like-for-like.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.