Peloton Interactive harus menghadapi gugatan hukum dari pemegang saham yang menuduh perusahaan menutupi kelebihan stok alat olahraga rumah pasca puncak pandemi COVID-19. Putusan ini disampaikan oleh Pengadilan Banding Federal AS di Manhattan pada Rabu (4/9).
Klaim Investor atas Pernyataan Menyesatkan
Majelis hakim menyatakan investor dapat mencoba membuktikan adanya tiga pernyataan keliru yang memengaruhi harga saham Peloton. Salah satunya adalah pernyataan mantan CEO John Foley pada 26 Agustus 2021, yang menyebut pemotongan harga sepeda senilai US$400 sebagai strategi ofensif untuk meningkatkan penjualan. Padahal, menurut investor, langkah tersebut bersifat defensif untuk mengurangi tumpukan persediaan selama tiga bulan.
Selain itu, dua peringatan risiko dalam dokumen resmi Peloton terkait kemungkinan kelebihan stok dinilai menyesatkan. Hakim Steven Menashi menilai investor telah menunjukkan bukti bahwa masalah inventori sudah nyata terjadi, bukan sekadar risiko hipotetis.
Saham Merosot Tajam
Peloton yang berbasis di New York mengalami penurunan harga saham lebih dari 80% antara Februari 2021 hingga Januari 2022, seiring kembalinya aktivitas gym pasca vaksinasi massal. Penurunan terbesar terjadi pada 5 November 2021, ketika saham anjlok 35% dalam sehari setelah perusahaan memangkas proyeksi pendapatan tahunan hingga US$1 miliar.
Sejak awal 2021, nilai saham Peloton telah merosot sekitar 95%. Gugatan ini diajukan oleh City of Hialeah Employees’ Retirement System dan dikembalikan ke pengadilan distrik untuk diproses lebih lanjut.
Prospek Bisnis ke Depan
Meski tengah digugat, pada 7 Agustus lalu Peloton mencatatkan laba mengejutkan pada kuartal keempat dan memperkirakan pendapatan fiskal 2026 melampaui prediksi analis. Namun, perusahaan juga mengumumkan pemangkasan 6% tenaga kerja untuk menekan biaya operasional.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.