Glico Indonesia Optimistis Bisnis Camilan Tumbuh Meski Ekonomi Lesu

Glico Indonesia
Sumber Foto : Canva

PT Glico Manufacturing Indonesia, anak usaha Glico Group, tetap percaya bisnis camilan di Tanah Air akan tumbuh meski kondisi ekonomi belum stabil. Presiden Direktur GMI, Bhakti Priyana, mengatakan industri makanan ringan di Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun.

Menurut Bhakti, penjualan camilan sempat melonjak lebih dari 10% setelah pandemi. Namun, tren melambat pada 2023 akibat kenaikan harga BBM, dan kembali melandai pada 2024. Meski demikian, ia optimistis pasar makanan ringan masih berpotensi tumbuh, meskipun hanya satu digit.

Inovasi Produk dan Ekspansi Pasar

Untuk menjaga pertumbuhan, Glico mengandalkan strategi inovasi produk, menjaga kualitas, serta memperluas distribusi. Tahun ini, perusahaan merilis camilan cokelat renyah berlabel Alfie yang sudah tersedia di sejumlah supermarket modern, termasuk di luar Jawa.

Selain Alfie, Glico masih mengandalkan tiga merek utama, yakni Pocky, Pretz, dan Pejoy. Produk Pocky menyumbang sekitar 90% dari total penjualan. Perusahaan juga rutin menghadirkan edisi terbatas, seperti Pocky rasa semangka dan gula aren, yang biasanya dipasarkan selama tiga hingga enam bulan.

Bhakti menambahkan, Glico kini memperluas distribusi ke pasar tradisional dengan ukuran kemasan kecil. Saat ini, kontribusi penjualan didominasi pasar modern sebesar 65%, diikuti pasar tradisional 25%, dan e-commerce 5%.

Pabrik Baru di Karawang

Untuk mendukung ekspansi, Glico mengoperasikan pabrik baru di Karawang, Jawa Barat, sejak 2023. Pabrik seluas 60.000 meter persegi ini menjadi yang terbesar dari lima fasilitas produksi Glico Group untuk produk Pocky. Investasi yang digelontorkan mencapai Rp693,3 miliar, seluruhnya berasal dari perusahaan induk di Jepang.

Pabrik ini juga dilengkapi panel surya untuk menekan emisi karbon. Dari kapasitas produksi, 70% ditujukan untuk pasar domestik, sementara 30% diekspor ke Amerika Serikat dan Asia Tenggara.

Meski menghadapi tantangan harga produk di Indonesia yang relatif rendah dibanding pasar global, Bhakti menegaskan Glico tetap berkomitmen menjaga standar kualitas. “Tantangannya adalah bagaimana menjual makanan dengan rasa premium, tetapi harga tetap terjangkau,” ujarnya.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *