Diageo Catat Penurunan Laba dan Perketat Program Efisiensi Saat Cari CEO Baru

Laba Diageo
Sumber Foto : Canva

Perusahaan minuman beralkohol terbesar dunia, Diageo, melaporkan penurunan laba operasional hampir 28% pada tahun keuangan yang berakhir Juni lalu dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, mereka memperbesar target penghematan biaya dari £500 juta menjadi £625 juta, sebagai bagian dari upaya menyesuaikan kondisi bisnis di tengah tantangan pasar.

Langkah ini diambil bersamaan dengan pengumuman pencarian pengganti CEO Debra Crew yang mundur “atas kesepakatan bersama” setelah masa jabatan yang diwarnai penurunan harga saham dan kekhawatiran investor. Nik Jhangiani, CFO yang kini menjabat CEO interim, menegaskan bahwa efisiensi yang dijalankan bukan semata untuk pemutusan hubungan kerja. Ia menyebutkan bahwa meskipun beberapa posisi akan hilang, jumlah karyawan secara keseluruhan masih bisa bertambah.

Dampak Tarif dan Perubahan Pasar

Diageo juga menegaskan perkiraan kerugian tahunan sebesar US$200 juta akibat tarif impor yang dikenakan pemerintah Amerika Serikat terhadap produk minuman dari Inggris dan Uni Eropa. Tarif 10% pada barang Inggris mulai berlaku sejak 30 Juni, sementara tarif 15% untuk produk Uni Eropa mulai efektif pada 7 Agustus sebagai bagian dari kebijakan balasan Amerika terhadap beberapa mitra dagangnya.

Perusahaan telah melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk mengelola inventaris, mengoptimalkan rantai pasok, dan menyesuaikan alokasi investasi. Melalui strategi ini, Diageo yakin dapat menahan sekitar separuh dampak negatif tarif tersebut terhadap laba operasional.

Performa perusahaan di bawah kepemimpinan Crew kurang memuaskan, terutama setelah adanya penurunan penjualan di Amerika Latin dan Karibia serta gangguan pasokan produk seperti Guinness di pasar Inggris, yang menimbulkan keluhan dari pub sebelum musim liburan.

Beberapa merek unggulan seperti Guinness, tequila Don Julio, dan wiski Kanada Crown Royal Blackberry masih menunjukkan pertumbuhan positif. Meski begitu, CEO interim Jhangiani menyatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada portofolio produk mereka.

Harga saham Diageo sudah turun lebih dari 25% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu saham dengan performa terburuk di indeks FTSE 100, dan nilainya tidak meningkat sejak 2016. Selain faktor tarif, perubahan pola konsumsi terutama dari konsumen muda serta tekanan biaya hidup mendorong sebagian konsumen beralih ke merek yang lebih murah.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : reuters.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *