BlueScope, perusahaan baja terbesar di Australia, bergabung dengan konsorsium internasional yang mempertimbangkan pengambilalihan pabrik baja Whyalla di Australia Selatan. Pabrik yang sebelumnya dikelola oleh pengusaha asal Inggris, Sanjeev Gupta, kini berada di luar kendali setelah masalah finansial yang serius.
Konsorsium tersebut terdiri dari BlueScope, perusahaan Jepang Nippon Steel, perusahaan India JSW Steel, dan produsen Korea Selatan POSCO. Mereka telah mengajukan pernyataan minat tidak mengikat untuk mengakuisisi Whyalla, menurut pernyataan resmi BlueScope kepada para pemegang saham.
“Keputusan untuk mengajukan tawaran resmi akan bergantung pada hasil pemeriksaan kelayakan serta pertimbangan terhadap tingkat pengembalian investasi,” ujar BlueScope. Konsorsium melihat Whyalla sebagai lokasi potensial untuk produksi besi rendah emisi yang ramah lingkungan, dengan tujuan memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor. Proyek ini juga dinilai penting dalam upaya dekarbonisasi industri baja global.
Pentingnya Whyalla untuk Industri Baja dan Ekonomi Regional
Whyalla merupakan salah satu dari dua pabrik baja terintegrasi utama di Australia dan satu-satunya produsen rel kereta api lokal. Proyek ini memiliki nilai strategis tinggi, terutama bagi wilayah sekitarnya, karena menjadi sumber lapangan pekerjaan utama dan memproduksi barang yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di Australia.
Pada awal 2025, pabrik ini mendapat dukungan dana talangan sebesar 2,4 miliar dolar Australia dari pemerintah federal dan negara bagian untuk memastikan kelangsungan operasional dan menjaga lapangan kerja, menyusul pengambilalihan kendali dari GFG Alliance milik Gupta yang menghadapi utang besar.
GFG Alliance sempat menjanjikan investasi untuk mengubah Whyalla menjadi pabrik baja hijau menggunakan hidrogen yang dihasilkan dari energi terbarukan. Namun, janji tersebut tidak terealisasi. Saat administrator mengambil alih pada Februari, ditemukan utang lebih dari 1,3 miliar dolar Australia, termasuk tunggakan hak karyawan.
Seorang juru bicara GFG menyebut tantangan operasional dan finansial yang dihadapi sangat besar, dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Masalah keuangan Gupta juga terkait dengan kebangkrutan Greensill Capital pada 2021, yang mengguncang bisnis baja globalnya.
Proses Lelang dan Harapan Pemerintah
Perdana Menteri South Australia, Peter Malinauskas, menyatakan ada lebih dari 15 pihak nasional dan internasional yang lolos tahap ekspresi minat terakhir. Ini dianggap sebagai sinyal positif untuk masa depan pabrik baja dan kemampuan produksi baja kedaulatan Australia.
Saat ini, penasehat penjualan sedang mengundang tawaran indikatif dari para calon pembeli yang telah diseleksi. Belum ada pemenang yang ditetapkan. Pemerintah menekankan tujuan utama mereka adalah menyerahkan kepemilikan Whyalla kepada pemilik baru yang kredibel dan mampu melakukan investasi jangka panjang.
MMasih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : theguardian.com






