Stellantis (STLAM.MI) memperkirakan kerugian hingga 1,5 miliar euro (sekitar Rp27 triliun) sepanjang 2025 akibat tarif impor dari Amerika Serikat. Meski menghadapi tekanan tersebut, perusahaan otomotif ini tetap berkomitmen memperkenalkan sejumlah model kendaraan baru demi meningkatkan penjualan, khususnya di pasar AS yang menurun tajam tahun lalu.
Antonio Filosa, CEO baru Stellantis yang diangkat Mei lalu, menegaskan fokusnya adalah mengembalikan pertumbuhan volume penjualan. Dalam pernyataan publik pertamanya, ia menyebut bahwa peluncuran produk-produk yang lebih sesuai dengan keinginan konsumen akan menjadi kunci. Salah satu langkah konkret adalah menghadirkan kembali mesin Hemi V8 untuk truk Ram.
Target Jangka Pendek dan Tantangan Kedepan
Saham Stellantis sempat menguat hingga 3,8% setelah pernyataan Filosa kepada analis, meski akhirnya ditutup naik tipis 0,2% di bursa Milan. Perusahaan juga memproyeksikan margin laba operasional yang rendah pada paruh kedua 2025, menyusul kinerja lemah di enam bulan pertama tahun ini.
Filosa menyebut semester awal 2025 sebagai periode yang “sangat menantang” dan menegaskan perlunya kerja keras untuk kembali bersaing, termasuk di segmen pasar yang selama ini ditinggalkan. Namun, dia tidak merinci model apa saja yang akan diluncurkan selain Ram bermesin V8.
Selain berfokus pada pertumbuhan, Stellantis juga menargetkan peningkatan pendapatan bersih dan perbaikan arus kas industri, setelah membukukan arus kas negatif sebesar 3 miliar euro pada semester pertama. Proyeksi ini dibuat berdasarkan kesepakatan dagang baru antara Uni Eropa dan AS yang diumumkan akhir pekan lalu.
Tarif sebesar 1,5 miliar euro—termasuk 300 juta euro yang sudah terealisasi di semester pertama—merupakan angka tertinggi dari estimasi kerugian sebelumnya, yang berada di kisaran 1 hingga 1,5 miliar euro.
Kepemimpinan Baru dan Portofolio Merek
Filosa menggantikan Carlos Tavares yang diberhentikan pada Desember lalu setelah kinerja buruk Stellantis di pasar AS. Dalam pernyataannya, Filosa menolak menyalahkan pihak manapun, dan lebih memilih menekankan tanggung jawab serta akuntabilitas manajemen.
Saat ditanya soal rencana penyederhanaan 15 merek dalam portofolio Stellantis—termasuk Jeep, Peugeot, Chrysler, dan Fiat—Filosa menyebut banyaknya merek justru merupakan keunggulan kompetitif. Ia berjanji akan meningkatkan efisiensi pengelolaan merek tanpa melakukan pemangkasan.
Stellantis sebelumnya menarik panduan pemulihan moderat untuk tahun ini, menyusul penurunan laba bersih sebesar 70% pada 2024. Meski kesepakatan dagang baru antara UE dan AS menurunkan tarif impor AS menjadi 15% untuk sebagian besar produk Eropa, Stellantis tetap terdampak besar karena 40% kendaraan yang dijualnya di AS diimpor dari Meksiko dan Kanada, yang dikenai tarif hingga 25%.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : reuters.com
