Persaingan dalam ritel instan di China terus berlanjut, meskipun telah mendapat kritik dari otoritas negara. Ketiga raksasa e-commerce, yakni Alibaba, JD.com, dan Meituan, menggelontorkan dana hampir 200 miliar yuan (sekitar Rp4.500 triliun) untuk mensubsidi layanan pengiriman satu jam. Akibatnya, pelanggan bisa mendapatkan makanan atau minuman secara gratis melalui kupon.
Model bisnis ritel instan—yang menjanjikan pengiriman dalam waktu 30 hingga 60 menit—menjadi strategi penting demi mempertahankan eksistensi bisnis. Menurut analis teknologi Ed Sander dari Tech Buzz China, pertarungan ini bukan hanya soal saat ini, melainkan tentang kelangsungan bisnis lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Namun, langkah agresif tersebut menuai sorotan. Ketiga perusahaan itu dipanggil kembali oleh Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China. Pemerintah meminta agar kompetisi dilakukan secara rasional dan sesuai dengan agenda nasional.
Kekhawatiran Deflasi dan Kompetisi Tidak Sehat
Meskipun konsumen diuntungkan dari harga murah, para pakar ekonomi memperingatkan risiko makroekonomi. Menurut profesor Bala Ramasamy dari China Europe International Business School, perang harga yang ekstrem dapat memperkuat tekanan deflasi dan merusak struktur pasar.
Data ekonomi menunjukkan adanya perlambatan, dengan pertumbuhan penjualan ritel turun dari 6,4% di Mei menjadi 4,8% di Juni 2025. Selain itu, ekonom ANZ memperkirakan indeks harga konsumen akan turun 0,1% dan indeks harga produsen anjlok 3% tahun ini—penurunan tahunan pertama sejak 2009.
Media pemerintah seperti Xinhua juga mengkritik praktik “pembelian nol yuan” karena menciptakan pasar semu yang tidak berkelanjutan. Bahkan, regulator mengungkapkan kekhawatiran soal limbah makanan akibat pesanan gratis yang tidak dikonsumsi.
Ritel Instan Tetap Menarik di Tengah Lesunya Konsumsi
Meski banyak kritik, ritel instan tetap menjadi sektor yang tumbuh cepat—bahkan 2,5 kali lebih cepat dibanding e-commerce konvensional. Diperkirakan, total penjualannya akan melampaui 2 triliun yuan pada 2030.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, para pelaku usaha lokal mulai terdampak. Banyak pedagang mengeluhkan margin keuntungan yang semakin tipis, sementara restoran mengalami penurunan pelanggan makan di tempat. Analis industri kuliner Wang Hongdong menilai penghentian total kompetisi tidak mungkin dilakukan, tetapi regulator bisa saja menertibkan dampak negatif terhadap sektor lain seperti restoran dine-in.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : reuters.com
