Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur menghadapi tantangan struktural yang cukup berbeda dibandingkan wilayah lain seperti Pulau Jawa. Dua faktor utama yang menjadi sorotan adalah ketergantungan bahan baku impor dan persaingan tenaga kerja dengan sektor tambang yang dominan di wilayah ini.
Ketergantungan Impor dan Beban Biaya Produksi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa banyak pelaku UMKM di Kaltim masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar pulau. Kondisi ini menyebabkan biaya produksi meningkat signifikan dan menyulitkan mereka untuk bersaing dengan UMKM di Jawa yang memiliki akses bahan baku lebih dekat dan murah.
Sebagai solusi, Budi menyarankan pembentukan koperasi atau agregator bahan baku. Dengan pembelian dalam jumlah besar secara kolektif, pelaku UMKM bisa menekan harga bahan mentah dan meningkatkan daya saing produk mereka.
Persaingan Tenaga Kerja dengan Industri Tambang
Selain itu, UMKM juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja terampil karena banyak calon pekerja lebih memilih sektor pertambangan yang menawarkan gaji lebih tinggi. Akibatnya, sektor UMKM mengalami kendala dalam mempertahankan produktivitas dan kualitas usaha.
Untuk mengatasi tantangan ini, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas pasar agar bisa memberikan kompensasi lebih kompetitif kepada pekerja. Dengan begitu, mereka bisa bersaing secara lebih seimbang dengan sektor tambang.
Contoh Keberhasilan UMKM Lokal
Beberapa pelaku UMKM di Kabupaten Berau menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satunya adalah Rumah Cokelat Kulanta, yang mengolah kakao lokal berkualitas ekspor melalui dukungan kolaboratif bersama Bank Indonesia dan mitra lainnya. Selain itu, Batik Maluang sukses menembus omzet ratusan juta rupiah per bulan berkat strategi segmentasi produk—batik tulis untuk pasar premium dan batik cap-tulis untuk kelas menengah.
Strategi Pembinaan Berbasis Lima Pilar
Bank Indonesia menerapkan pendekatan lima pilar dalam pengembangan kapasitas UMKM, dimulai dari:
- Kurasi awal, dengan seleksi berdasarkan motivasi dan kesiapan pemilik usaha.
- Capacity building, melalui pelatihan peningkatan kualitas produk dan penerapan SOP.
- Literasi keuangan, menggunakan aplikasi SIAPIK untuk mengelola laporan keuangan dan menganalisis tren pasar.
- Pengembangan berkelanjutan, termasuk penggunaan bahan ramah lingkungan seperti pewarna alami.
- Akses pembiayaan, agar UMKM menjadi lebih bankable dan mudah mengakses kredit usaha.
Tantangan yang dihadapi UMKM di Kalimantan Timur memang kompleks, namun bisa diatasi dengan strategi kolaboratif, penguatan kapasitas usaha, dan dukungan sistemik dari berbagai pihak. Dengan langkah konkret seperti yang telah diterapkan pada sektor cokelat dan batik di Berau, UMKM Kaltim memiliki peluang besar untuk tumbuh berdaya saing.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel
Sumber : bisnis.com






