Ritel Hong Kong Tertekan, Warga Pilih Belanja di Shenzhen

ritel Hong Kong
Sumber Foto : Freepik

Sektor ritel Hong Kong menghadapi tantangan besar akibat perubahan perilaku belanja konsumen. Banyak penduduk lokal kini lebih memilih berbelanja dan makan di Shenzhen, Tiongkok, yang menawarkan harga lebih murah. Kondisi ini berdampak pada penurunan omzet dan memicu gelombang penutupan toko di berbagai kawasan komersial utama.

Penutupan terbaru terjadi pada restoran makanan laut yang telah berdiri selama 36 tahun serta pusat kuliner kelas atas di distrik Causeway Bay. Sebelumnya, beberapa bioskop, grup katering besar, toko roti legendaris, hingga restoran bubur ternama yang sudah beroperasi selama tiga dekade juga menghentikan operasional mereka.

Pelemahan belanja domestik diperparah oleh kondisi ekonomi Tiongkok yang melambat, ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat, serta dampak kebijakan keamanan nasional yang menekan iklim usaha. Berdasarkan data resmi, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Hong Kong diperkirakan hanya berada di kisaran 2%–3% pada tahun ini, turun dari 3,2% pada 2023.

Wisatawan Mulai Kembali, Tapi Daya Beli Masih Lemah

Hong Kong sempat menjadi destinasi favorit wisatawan asal Tiongkok daratan dengan daya beli tinggi. Namun sejak demonstrasi besar pada 2019 dan pembatasan akibat COVID-19, daya tarik kota ini terus menurun.

Pemerintah telah menggelar berbagai acara besar untuk menarik kembali wisatawan, termasuk konser Coldplay dan pertandingan eksibisi Manchester United. Hasilnya, jumlah kunjungan wisata meningkat 20% pada Mei 2025 menjadi 4,08 juta orang. Meski demikian, angka tersebut masih tertinggal dibandingkan 4,95 juta kunjungan pada periode yang sama di 2018.

Di sisi lain, nilai penjualan ritel meningkat tipis sebesar 2,4% dibandingkan tahun lalu menjadi HK$31,3 miliar. Namun angka ini baru setara dengan 77% dari capaian Mei 2018 yang mencatat HK$40,5 miliar.

“Kami terus mencari cara agar kunjungan wisatawan bisa berdampak langsung pada peningkatan penjualan,” ujar Annie Yau Tse, Ketua Asosiasi Manajemen Ritel Hong Kong.

Struktur Pasar yang Berubah, Harga Sewa Tak Lagi Menolong

Menurut Jack Tong dari Savills Research & Consultancy, sejak 2023 telah terjadi pergeseran struktur pasar ritel lokal. Menurunnya minat belanja serta peningkatan perjalanan warga ke luar negeri membuat banyak jenis usaha tidak lagi mampu bertahan, meskipun harga sewa toko terus ditekan hingga setara dengan tingkat harga tahun 2003.

Pola konsumsi wisatawan dari Tiongkok daratan juga telah berubah, tak lagi berfokus pada belanja mewah di Hong Kong atau Makau. Hal ini turut menghambat pemulihan sektor ritel secara keseluruhan.

Cafe de Coral, salah satu grup restoran terbesar di kota ini, melaporkan penurunan laba bersih hingga 29,6% untuk tahun keuangan yang berakhir Maret lalu. Mereka menyebutkan bahwa lemahnya ekonomi dan sentimen belanja turut menjadi penyebab utama.

Meski begitu, ada secercah harapan. Pada pameran perhiasan bulan Juni, sejumlah pedagang asal Tiongkok kembali hadir meskipun belum langsung bertransaksi. “Mereka datang untuk bertanya dan meninjau. Itu adalah perkembangan positif dibanding satu setengah tahun terakhir,” kata salah satu peserta pameran, Vipul Sutariya.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *