Industri data center di Indonesia diprediksi akan tumbuh cepat dalam 3 hingga 5 tahun ke depan. Kebutuhan pemrosesan data besar di sektor e-commerce, layanan publik, dan fintech menjadi pemicunya. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai tren ini akan semakin kuat seiring adopsi kecerdasan buatan (AI).
“Transformasi digital mendorong permintaan pusat data yang tinggi. Industri data center akan berkembang seiring kebutuhan infrastruktur digital yang meningkat,” ujar Heru pada 2 Juli 2025.
Nilai Pasar Naik, Tapi Tantangan Energi Mengadang
Menurut laporan terbaru, nilai pasar pusat data Indonesia akan menembus US$3,98 miliar atau Rp64,87 triliun pada 2028. Pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) diperkirakan mencapai 14%. Kapasitas pusat data yang mendukung AI diprediksi melonjak dari 200 MW menjadi 971,9 MW pada 2025, dan naik ke 2.110 MW pada 2030.
Meski prospek menjanjikan, tantangan tetap ada. Heru menyebut biaya energi tinggi dan ketergantungan pada gas impor menjadi hambatan utama. “Keekonomian energi belum ideal. Padahal pusat data sangat bergantung pada pasokan listrik yang besar,” jelasnya.
Selain itu, regulasi seperti UU PDP dan KBLI 63112 menambah beban operasional. Persyaratan ketat terkait residensi data dan izin lingkungan dinilai masih rumit. Heru mendorong adanya revisi kebijakan agar mendukung pertumbuhan sektor digital secara berkelanjutan.
Ia menyoroti pentingnya penyesuaian PP No. 71 Tahun 2019 agar kembali ke semangat awal PP No. 82 Tahun 2012. Kebijakan lama mewajibkan pusat data dan pusat pemulihan data (DRC) ditempatkan di dalam negeri.
Investasi Asing Masuk, Risiko Overcapacity Mengintai
Kepercayaan terhadap pasar pusat data Indonesia turut ditunjukkan oleh EDGNEX Data Centers by DAMAC. Perusahaan ini menggelontorkan investasi sebesar US$2,3 miliar atau sekitar Rp37 triliun untuk membangun pusat data generasi terbaru di Jakarta. Proyek ini sedang dalam tahap awal konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Namun, Heru mengingatkan potensi ketimpangan antara pasokan dan permintaan. Kapasitas saat ini hanya 200 MW, sementara kebutuhan bisa mencapai 2.000 MW. Jika ekspansi tidak dibarengi strategi pasar yang kuat, backlog kapasitas bisa mencapai 20–30% pada 2030.
Ia menyarankan kolaborasi antara investor asing dan pelaku lokal diperkuat. Dukungan regulasi yang adaptif juga penting agar pertumbuhan industri tidak hanya sementara.
Indonesia punya peluang besar menjadi pusat data regional. Negara-negara tetangga yang sebelumnya dominan kini menghadapi hambatan ekspansi. Ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengambil alih posisi strategis di Asia Tenggara.
Pendiri DAMAC Group, Hussain Sajwani, menegaskan komitmennya. “Kami ingin membangun pusat data yang canggih dan efisien. Proyek ini akan mendukung gelombang inovasi digital di kawasan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bisnis.com
