Komite Parlemen Soroti Risiko dan Ketidakefisienan Dana Publik pada Skema Lifetime ISA

lifetime ISA
Sumber Foto : Freepik

Sebuah laporan dari Komite Keuangan Inggris menyebutkan bahwa lifetime ISA bisa mendorong masyarakat membuat keputusan investasi yang kurang tepat dan mungkin bukan alokasi dana publik yang paling efisien. Temuan ini disampaikan dalam laporan terbaru yang dirilis pada Senin (1/7), yang menyoroti sejumlah kelemahan dalam rancangan produk ini.

Skema lifetime ISA, atau disingkat Lisa, diperkenalkan pada 2017 oleh Kanselir saat itu, George Osborne, sebagai sarana untuk membantu masyarakat membeli rumah pertama atau menabung untuk masa pensiun. Pemerintah memberikan insentif berupa bonus tahunan hingga £1.000 bagi penabung yang menyetorkan maksimal £4.000 per tahun.

Namun, Komite Keuangan menilai desain ganda Lisa—yang menggabungkan tabungan pensiun dan pembelian rumah—justru membingungkan dan berpotensi mengarahkan nasabah pada produk keuangan yang kurang tepat. Mereka menyebut bahwa skema tabungan rumah ini belum tentu menjadi pilihan terbaik dibandingkan produk lain yang lebih sesuai untuk kebutuhan individu.

Berisiko untuk Penerima Universal Credit dan Pembeli Rumah Pertama

Salah satu kekhawatiran utama adalah bahwa tabungan yang disimpan dalam Lisa dapat memengaruhi kelayakan seseorang untuk menerima tunjangan seperti universal credit atau housing benefit. Hal ini tidak terjadi pada tabungan pensiun pribadi maupun dana pensiun tempat kerja. Komite menyebut peraturan ini “tidak masuk akal” dan menyarankan agar Lisa menyertakan peringatan khusus jika tidak ada perubahan kebijakan.

Dame Meg Hillier, Ketua Komite Keuangan, menyampaikan bahwa meski tujuan Lisa untuk membantu masyarakat menabung sangat penting, perlu evaluasi ulang apakah skema ini merupakan cara paling efektif untuk mengalokasikan miliaran dana publik dalam beberapa tahun ke depan. Ia menambahkan, “Saat pemerintah tengah meninjau kebijakan ISA, ini waktu yang tepat untuk mengevaluasi apakah Lisa masih relevan dan bermanfaat.”

Produk Lisa dalam bentuk tunai dinilai mungkin cocok bagi mereka yang menabung untuk membeli rumah, tetapi kurang menguntungkan bagi yang menggunakannya untuk persiapan pensiun. Produk ini tidak memungkinkan investasi dalam instrumen berisiko seperti obligasi dan saham yang bisa memberikan hasil lebih tinggi dalam jangka panjang.

Tingkat Penarikan Awal Tinggi, Target Pengguna Tidak Tepat

Laporan juga mengungkap bahwa dalam tahun 2023–2024, jumlah nasabah yang melakukan penarikan tidak sah dari Lisa—sebanyak 99.650 orang—nyaris dua kali lipat dibandingkan yang menggunakannya untuk membeli rumah (56.900 orang). Penarikan ini dikenai denda 25%, yang menurut Komite merupakan indikasi bahwa produk ini belum bekerja sebagaimana mestinya.

Saat ini, hanya 6% orang dewasa yang memenuhi syarat yang telah membuka akun Lisa sejak diluncurkan. Sekitar 1,3 juta akun masih aktif, dan menurut proyeksi, insentif bonus yang dibayarkan pemerintah melalui skema ini akan menghabiskan sekitar £3 miliar selama lima tahun hingga 2029–2030.

Batasan harga properti sebesar £450.000 juga dinilai membatasi manfaat bagi pembeli rumah pertama, khususnya di wilayah dengan harga properti tinggi. Pemerhati konsumen Martin Lewis menyarankan pengurangan penalti penarikan menjadi 20% dan penyesuaian batas harga properti. Ia mendukung rekomendasi komite untuk memperbaiki sistem ini agar tidak merugikan pengguna.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *