Ekspor mobil Inggris kembali melonjak ke pasar Amerika Serikat sejak Senin pagi, setelah diberlakukannya perjanjian dagang Inggris-AS yang baru. Ribuan unit Mini, Aston Martin, dan Range Rover dijadwalkan berlayar ke AS menyusul penurunan tarif impor mobil dari 25% menjadi 10%.
Kebijakan Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat memukul keras industri otomotif Inggris, terutama setelah tarif tambahan 25% diberlakukan pada awal April. Namun kini, para produsen berharap permintaan yang sempat tertahan akan segera pulih. Adrian Hallmark, CEO Aston Martin, mengungkapkan bahwa perusahaannya menghentikan pengiriman mobil selama hampir tiga bulan.
“Kami akan menagihkan penjualan selama tiga bulan hanya dalam satu hari,” ujar Hallmark dalam konferensi industri otomotif di Inggris. Menurutnya, ekspor mobil Inggris sempat melambat, tetapi pelanggan mereka tetap setia menunggu karena daya beli yang tinggi.
Meskipun demikian, perjanjian baru hanya mencakup kuota 100.000 unit mobil per tahun. Jumlah ini justru sedikit lebih rendah dibandingkan total ekspor tahun lalu. Jaguar Land Rover (JLR) bahkan telah mengekspor 84.000 mobil ke AS dalam 12 bulan terakhir, menyisakan ruang ekspansi yang sangat terbatas.
Petani Protes Dijadikan Alat Tawar
Di balik manfaat besar bagi sektor otomotif, sejumlah pihak dari kalangan pertanian menyuarakan ketidakpuasan. Presiden National Farmers’ Union (NFU), Tom Bradshaw, menyatakan bahwa sektor pertanian kembali dijadikan alat tawar dalam perjanjian dagang Inggris-AS.
“Pemerintah terlalu sering menjadikan pertanian sebagai pengorbanan untuk keuntungan sektor lain,” kata Bradshaw. “Saatnya pertanian dihentikan dari meja negosiasi.”
Sebagai imbal balik, Inggris memang mendapat kuota ekspor 13.000 ton daging sapi ke AS. Namun, realisasinya baru bisa dimulai tahun depan karena kuota tahun ini telah habis diserap eksportir asal Brasil.
Industri Baja dan Lotus Masih Dalam Sorotan
Dari sektor baja, pabrik-pabrik di Inggris, termasuk milik Tata Steel di Port Talbot, Wales, masih menunggu kepastian tarif. Meski diberi pengecualian sementara dari tarif 50% hingga 9 Juli, mereka tetap terkena tarif 25% yang menghambat ekspor.
Direktur Jenderal UK Steel, Gareth Stace, mengingatkan bahwa ketidakpastian ini menghambat keputusan investasi dan memperparah kerugian. “Kami butuh hasil nyata agar industri bisa bergerak lagi,” ujarnya.
Sementara itu, produsen mobil Lotus menegaskan akan tetap memproduksi mobilnya di Hethel, Norfolk. Menteri Bisnis Inggris, Jonathan Reynolds, telah bertemu manajemen Lotus dan pemiliknya, Geely, yang memastikan bahwa tidak ada rencana memindahkan produksi ke luar negeri. Komitmen ini penting mengingat Lotus termasuk ikon otomotif Inggris.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






