CEO Arm Holdings, Rene Haas, menilai upaya pembatasan atau pelarangan ekspor chip berbasis CPU kecerdasan buatan ke China akan sangat sulit dilakukan. Menurutnya, sifat penggunaan CPU yang sangat luas membuat penentuan batas teknis untuk pelarangan menjadi rumit dan tidak seefektif pembatasan pada GPU.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat dalam membatasi akses perusahaan China terhadap teknologi semikonduktor canggih. Washington sebelumnya juga telah memperketat pengiriman chip AI, termasuk produk dari Nvidia, untuk mencegah penguatan kapasitas komputasi super di China.
Tantangan Regulasi dan Batas Teknis
Haas menjelaskan bahwa pembatasan larangan ekspor chip AI pada CPU jauh lebih kompleks dibandingkan GPU. Hal ini karena CPU tidak memiliki karakteristik kinerja yang mudah diklasifikasikan untuk tujuan AI, seperti ambang performa atau bandwidth memori yang jelas.
Ia menegaskan bahwa jika aturan serupa diterapkan, maka hampir seluruh ekosistem komputasi bisa terdampak. Kondisi ini membuat kebijakan pembatasan menjadi tidak praktis untuk dijalankan secara menyeluruh.
Permintaan CPU AI Meningkat Tajam
Di sisi lain, Arm mencatat lonjakan permintaan terhadap CPU untuk aplikasi AI generasi baru, terutama pada tahap “inference” atau pemrosesan model AI dalam penggunaan nyata. Tren ini ikut mendorong meningkatnya kebutuhan global terhadap CPU kecerdasan buatan.
Arm juga mengumumkan pelanggan baru untuk chip AGI CPU terbarunya, termasuk perusahaan China ByteDance dan perusahaan data center AS Oracle. Permintaan terhadap produk tersebut dilaporkan lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Perusahaan bahkan memperkirakan potensi pendapatan dari chip tersebut dapat mencapai miliaran dolar dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor.
Tekanan Produksi dan Rantai Pasok Chip
Lonjakan permintaan global terhadap CPU AI juga menyebabkan tekanan pada rantai pasok semikonduktor. Produsen seperti Intel dan AMD turut merasakan peningkatan kebutuhan chip untuk mendukung aplikasi berbasis AI.
Untuk mengatasi potensi bottleneck produksi, Arm disebut telah berdiskusi dengan pemasok utama seperti TSMC guna memastikan ketersediaan wafer. Selain itu, Arm juga bekerja sama dengan Socionext serta mitra seperti Microsoft untuk mengamankan pasokan komponen memori standar.
Perkembangan ini menegaskan bahwa pasar semikonduktor AI tidak hanya didominasi GPU, tetapi juga mulai bergeser ke CPU untuk kebutuhan inference dan agen AI. Meski demikian, ketegangan geopolitik terkait pembatasan teknologi masih menjadi faktor utama yang membentuk arah industri.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com