BYD memilih untuk tidak terlibat dalam perang harga di Afrika Selatan meski persaingan di pasar mobil listrik semakin ketat di negara tersebut. Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok itu justru mengutamakan pembangunan merek dibanding mengejar volume penjualan secara agresif di pasar otomotif terbesar kedua di Afrika itu.
Managing Director BYD Auto South Africa, Steve Chang, mengatakan perusahaan saat ini belum fokus mengejar angka penjualan tinggi. Menurutnya, pendekatan yang diambil lebih lambat dibanding kompetitor, tetapi bertujuan memperkuat posisi merek di tengah pertumbuhan pasar mobil listrik yang masih berada pada tahap awal.
Pada Maret, BYD mencatat penjualan sebanyak 589 unit di Afrika Selatan. Angka tersebut membuatnya sedikit tertinggal dari Mercedes-Benz dan Stellantis, namun masih mampu melampaui beberapa merek mapan seperti Volvo. Meski demikian, pasar kendaraan energi baru di negara itu masih tergolong kecil dengan total penjualan 16.716 unit pada 2025, meskipun tumbuh 7,1% dari tahun sebelumnya.
Strategi Tanpa Diskon Besar
Di tengah banyaknya pemain baru yang mengandalkan potongan harga untuk mempercepat penetrasi pasar, BYD memilih pendekatan berbeda dalam strategi harga EV. Perusahaan menghindari diskon besar karena dinilai dapat menekan nilai jual kembali kendaraan serta merusak persepsi merek dalam jangka panjang.
“Kami tidak ingin terlalu banyak memberikan diskon karena kami peduli pada pembeli pertama, nilai kendaraan di pasar sekunder, dan juga nilai merek,” ujar Chang.
Sebagai gantinya, BYD menerapkan konsep price parity, yakni menawarkan kendaraan listrik dan plug-in hybrid dengan harga yang sebanding dengan mobil berbahan bakar bensin atau diesel. Pendekatan strategi harga EV ini diharapkan dapat mendorong adopsi tanpa harus merusak struktur harga pasar.
Ekspansi Bertahap di Afrika Selatan
BYD resmi memasuki pasar Afrika Selatan pada 2023 sebagai bagian dari ekspansi globalnya. Salah satu produk terbarunya, SUV plug-in hybrid tujuh penumpang ATTO 8, dipasarkan dengan harga mulai sedikit di atas 1 juta rand atau sekitar 61.046 dolar AS.
Selain penjualan, perusahaan juga menitikberatkan edukasi kepada konsumen terkait teknologi kendaraan listrik. Hal ini dilakukan karena pasar mobil listrik di Afrika Selatan masih tergolong baru dan membutuhkan pemahaman lebih luas sebelum bisa tumbuh lebih cepat.
Chang menegaskan bahwa fokus utama BYD saat ini adalah membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar dominasi instan di pasar yang masih berkembang.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com