Sektor manufaktur Eropa menghadapi tekanan berat pada Maret akibat lonjakan biaya produksi dan gangguan rantai pasok yang dipicu oleh perang Iran. Kondisi ini terjadi di tengah permintaan yang masih lemah, sehingga mengancam pemulihan industri yang belum sepenuhnya stabil.
Survei terbaru menunjukkan biaya input melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2022, didorong kenaikan harga energi dan minyak. Dampaknya, banyak pelaku industri menaikkan harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Situasi ini juga memperlambat distribusi barang karena terganggunya jaringan logistik global.
Indeks PMI manufaktur zona euro tercatat naik menjadi 51,6 pada Maret dari 50,8 di Februari, melampaui perkiraan awal 51,4. Meski angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sejumlah ekonom menilai indikator ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.
Chris Williamson, Kepala Ekonom Bisnis S&P Global, menilai lonjakan PMI lebih dipengaruhi oleh gangguan pasokan daripada peningkatan permintaan. Ia menyebut kondisi ini serupa dengan masa pandemi, di mana keterlambatan pengiriman justru mendorong angka PMI naik secara semu.
Permintaan Lemah, Tekanan Tetap Tinggi
Indeks pesanan baru memang mencatat level tertinggi dalam 46 bulan, namun pertumbuhannya masih terbatas. Produksi industri meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut, dengan indeks output naik tipis ke 52,0—tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Kabar positif datang dari pesanan ekspor baru yang akhirnya stabil setelah delapan bulan berturut-turut mengalami kontraksi. Namun, tekanan belum mereda sepenuhnya. Tumpukan pekerjaan (backlog) meningkat untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2022, menandakan kapasitas produksi mulai tertekan.
Di sisi lain, perusahaan justru mempercepat pengurangan tenaga kerja pada Maret. Kepercayaan bisnis juga melemah ke level terendah dalam lima bulan, mencerminkan kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak konflik geopolitik yang berkepanjangan.
Secara regional, Jerman dan Italia mencatat kinerja terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Yunani memimpin pertumbuhan, disusul Irlandia, sementara Prancis mengalami stagnasi. Spanyol menjadi satu-satunya negara yang masih berada di zona kontraksi.
Kombinasi antara perang Iran dan lemahnya permintaan global membuat prospek manufaktur Eropa masih dibayangi ketidakpastian dalam waktu dekat.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com