Kepercayaan konsumen AS mengalami kenaikan tipis pada Maret, namun kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja AS dan lonjakan inflasi tetap membayangi prospek ekonomi. Kenaikan harga energi, terutama bensin, serta dampak tarif perdagangan membuat rumah tangga semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Data dari Conference Board menunjukkan indeks kepercayaan konsumen naik 0,8 poin menjadi 91,8, melampaui perkiraan ekonom yang memproyeksikan angka 88,0. Meski demikian, ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan melonjak ke 5,2%, tertinggi sejak Mei 2025, seiring kenaikan harga bahan bakar akibat konflik global.
Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda pelemahan. Data terbaru mencatat jumlah lowongan kerja turun menjadi 6,882 juta pada Februari, lebih rendah dari perkiraan. Bahkan, perekrutan anjlok ke level terendah dalam enam tahun di luar periode pandemi.
Tekanan Energi dan Kebijakan Perdagangan
Lonjakan harga minyak global—yang naik lebih dari 50% akibat konflik di Timur Tengah—telah mendorong harga bensin di AS menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Di saat yang sama, kebijakan tarif yang diterapkan Presiden Donald Trump dinilai turut menekan aktivitas ekonomi. Meskipun sebagian kebijakan tersebut sempat dibatalkan Mahkamah Agung, pemerintah tetap melanjutkan tarif global hingga 15%, yang berkontribusi pada kenaikan harga barang.
Ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan dan imigrasi juga disebut menghambat permintaan dan pasokan tenaga kerja. Hal ini memperburuk kondisi ketenagakerjaan yang mulai kehilangan momentum.
Perekrutan Turun, Risiko Pengangguran Naik
Penurunan terjadi di berbagai sektor, termasuk akomodasi, manufaktur, konstruksi, hingga layanan kesehatan. Perekrutan turun hampir 500.000 posisi menjadi 4,849 juta—level terendah sejak awal pandemi COVID-19.
Sementara itu, tingkat pengangguran naik ke 4,4% pada Februari dan berpotensi meningkat ke 4,5% dalam waktu dekat. Indikator persepsi pasar kerja juga menunjukkan lebih banyak konsumen yang merasa pekerjaan semakin sulit didapat.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya menyebut kondisi pasar tenaga kerja saat ini berada dalam fase stagnasi dengan risiko penurunan. Situasi ini menjadi tantangan bagi bank sentral yang harus menyeimbangkan antara inflasi yang meningkat dan perlambatan ekonomi.
Di pasar keuangan, saham Wall Street sempat menguat karena harapan meredanya konflik global, meski indeks utama masih mencatat penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun. Sementara itu, dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah turun.
Meski hubungan antara kepercayaan konsumen dan belanja tidak selalu kuat, kombinasi kenaikan harga energi, penurunan nilai aset, dan lemahnya pasar kerja berpotensi menekan konsumsi rumah tangga—motor utama ekonomi AS.
Survei juga menunjukkan minat membeli barang besar dalam enam bulan ke depan mulai menurun, meski produk seperti mobil bekas, furnitur, dan elektronik masih diminati.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com