Saham CRO Tertekan Efek AI, Analis Nilai Kekhawatiran Berlebihan

Saham perusahaan contract research organization (CRO) mengalami tekanan tajam akibat kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau AI dalam uji klinis akan menggantikan peran mereka. Namun, sejumlah analis menilai penurunan ini berlebihan karena teknologi tersebut belum mampu menggantikan fungsi inti industri.

Penurunan saham terjadi pada beberapa pemain besar seperti IQVIA, Medpace, dan Charles River Laboratories, setelah peluncuran agen AI canggih oleh Anthropic pada Februari lalu. Inovasi ini memicu spekulasi bahwa perusahaan farmasi dapat mengurangi ketergantungan pada CRO dengan mengelola uji klinis secara mandiri.

Kekhawatiran semakin menguat seiring meningkatnya kolaborasi antara perusahaan farmasi dan perusahaan teknologi AI. Meski demikian, pelaku industri menilai kemampuan AI masih jauh dari cukup untuk menggantikan proses kompleks dalam uji klinis.

AI Belum Mampu Gantikan Peran CRO

Para analis menegaskan bahwa layanan CRO mencakup aspek yang sulit diotomatisasi, seperti rekrutmen pasien, pengelolaan lokasi uji global, hingga pelaksanaan studi lintas negara. Infrastruktur ini telah dibangun selama puluhan tahun dan tidak mudah direplikasi oleh perusahaan farmasi, terutama yang berskala kecil.

Bahkan dengan penerapan penuh AI, penghematan biaya diperkirakan hanya berkisar 10% hingga 15%. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi memang ada, tetapi tidak cukup signifikan untuk menggantikan kebutuhan terhadap CRO.

Selain itu, pelaksanaan uji klinis membutuhkan koordinasi langsung dengan tenaga medis dan pasien. Proses seperti informed consent, pemantauan keamanan, serta kehadiran pasien dalam jadwal uji tetap memerlukan keterlibatan manusia.

AI Justru Jadi Peluang Baru

Alih-alih menjadi ancaman, AI dalam uji klinis dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi operasional CRO. Teknologi ini dapat mempercepat proses seperti penyaringan awal pasien dan analisis data dalam skala besar.

Analis memperkirakan penggunaan AI dapat memangkas durasi uji klinis tahap akhir dari 58 bulan menjadi sekitar 47 bulan. Percepatan ini memberi keuntungan besar, terutama bagi obat dengan potensi pendapatan tinggi, karena bisa lebih cepat masuk pasar.

Model bisnis baru pun diprediksi akan muncul, termasuk skema berbagi keuntungan berbasis efisiensi yang dihasilkan AI. Hal ini justru membuka peluang pertumbuhan bagi CRO yang mampu beradaptasi dengan teknologi.

Meski demikian, kekhawatiran investor masih membayangi. Beberapa pihak menilai potensi perubahan layanan CRO dapat berdampak pada pendapatan. Namun, hingga saat ini belum ada bukti bahwa perusahaan farmasi mengurangi belanja mereka terhadap CRO akibat AI.

Secara keseluruhan, analis melihat sentimen negatif ini lebih dipicu kepanikan pasar dibanding ancaman nyata. Dalam jangka panjang, AI dipandang sebagai pendorong pertumbuhan, bukan penghambat bagi industri CRO.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *