Harga minyak dunia mengalami tekanan tajam setelah muncul transaksi besar senilai lebih dari US$500 juta hanya beberapa menit sebelum Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah tersebut langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak dan gas.
Data perdagangan menunjukkan bahwa dalam rentang satu menit, tepatnya antara pukul 10.49 hingga 10.50 GMT, pelaku pasar melakukan transaksi sekitar 5.100 kontrak berjangka Brent dan WTI. Nilainya ditaksir melampaui setengah miliar dolar AS. Volume penjualan mendominasi, meski identitas pelaku transaksi tidak diketahui.
Tak lama kemudian, pada pukul 11.05 GMT, Trump melalui media sosialnya mengisyaratkan adanya peluang negosiasi antara Washington dan Teheran. Pernyataan ini langsung mengguncang pasar. Dalam 60 detik, lebih dari 13.000 kontrak—setara 13 juta barel minyak—diperdagangkan, menandai lonjakan aktivitas yang luar biasa.
Harga minyak Brent sempat anjlok hingga 15%, dari kisaran US$112 menjadi sekitar US$99 per barel. Sementara itu, minyak WTI turun dari hampir US$99 ke level US$86 per barel. Penurunan ini mencerminkan perubahan cepat sentimen pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik di Timur Tengah.
Lonjakan Volume dan Volatilitas
Volume transaksi di pasar minyak global melonjak signifikan sejak konflik memanas. Dalam tiga tahun sebelum krisis, rata-rata perdagangan harian Brent berada di kisaran 300.000 kontrak. Namun, dalam empat minggu terakhir, angka ini melonjak hingga lebih dari 1 juta kontrak per hari.
Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya volatilitas serta ketidakpastian pasar. Saat ini, harga minyak dunia masih bertahan di kisaran US$104 per barel, meski tekanan tetap tinggi akibat ketidakjelasan arah konflik dan negosiasi.
Pasokan Global Masih Tertekan
Sekitar 20% pasokan minyak global disebut terdampak konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini membuat harga tetap lebih tinggi lebih dari 40% dibandingkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Meski ada sinyal diplomasi, Iran membantah tengah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil posisi, di tengah risiko geopolitik yang belum mereda.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com