Investasi Turbin Angin China Ditolak, 1.500 Lapangan Kerja di Skotlandia Terancam

Pemerintah Inggris menolak rencana investasi senilai £1,5 miliar dari perusahaan China, Ming Yang, untuk membangun pabrik turbin angin di Ardersier, Skotlandia. Proyek ini diperkirakan mampu menciptakan 1.500 lapangan kerja dan menghidupkan kembali pelabuhan bekas industri minyak dan gas di Highlands.

Lahan seluas 450 acre (182 ha) di Ardersier, yang dulunya digunakan untuk membangun platform lepas pantai pada era gas dan minyak Laut Utara, sudah lama terbengkalai sejak penutupan pada 2001. Kini, kawasan ini masuk dalam program Inverness dan Cromarty Firth Green Freeport dengan infrastruktur baru, termasuk jalan bundar di A96 untuk akses ke lokasi.

Ming Yang mengumumkan rencananya tahun lalu, tetapi pemerintah Inggris menilai perlu dilakukan pengecekan terkait aspek “keamanan dan keselamatan nasional” sebelum memberikan izin. Detail spesifik mengenai kekhawatiran keamanan ini tidak diungkap, termasuk kepada perusahaan China tersebut.

Kekhawatiran Investasi China

Secara umum, pemerintah Inggris memiliki kekhawatiran terhadap investasi China di sektor infrastruktur penting. Isu utama mencakup kemungkinan teknologi yang digunakan memungkinkan spionase atau pencurian rahasia industri. Kekhawatiran serupa sebelumnya membuat pemerintah Inggris menyingkirkan peralatan Huawei dari jaringan 5G.

Politisi oposisi, Andrew Bowie, menyoroti risiko China dapat memantau aktivitas laut Inggris, program kapal selam, hingga tata letak infrastruktur energi jika turbin China dibangun di perairan lokal. Meski Ming Yang mengaku bebas dari pengaruh pemerintah China, opini publik dan pejabat tetap berhati-hati.

Selain faktor domestik, tekanan internasional juga memengaruhi keputusan. Selama proses evaluasi satu setengah tahun, dilaporkan pejabat AS memperingatkan pemerintah Inggris tentang potensi risiko investasi tersebut, serupa dengan kampanye AS terhadap keterlibatan Huawei di Eropa.

Latar Belakang Hubungan Inggris-China

Hubungan Inggris dengan China mengalami pasang surut. Era “golden age” di bawah David Cameron ditandai dengan kunjungan hangat Presiden Xi Jinping. Namun, pemerintahan konservatif berikutnya menurunkan intensitas hubungan karena pertimbangan keamanan. PM Rishi Sunak pernah menyebut China sebagai “tantangan yang menentukan era” di bidang ekonomi dan keamanan.

Sejumlah kasus pengawasan dan intervensi politik oleh pihak China, termasuk dugaan stasiun polisi tersembunyi dan peretasan sistem pemerintah, memperkuat kekhawatiran ini. Meski PM Sir Keir Starmer kini mencoba memperbaiki hubungan demi pertumbuhan ekonomi, proyek Ming Yang tetap dianggap terlalu berisiko.

Reaksi dan Konteks Industri

Keputusan pemerintah Inggris mendapat kecaman dari pemerintahan Skotlandia yang dipimpin SNP. Deputi PM Kate Forbes menilai penolakan ini sebagai “sabotase terhadap masa depan industri Skotlandia”. Ironisnya, pada hari yang sama, perusahaan Denmark Vestas mengumumkan rencana membangun pabrik turbin di Skotlandia dengan 500 pekerjaan baru, menunjukkan potensi industri energi terbarukan tetap besar.

Saat ini, belum ada pabrik di Inggris yang memproduksi bagian turbin bernilai tinggi seperti nacelle. Pemerintah berjanji mendorong rantai pasok lokal, tetapi keamanan nasional tetap menjadi prioritas.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *