Harga pangan dunia kembali mengalami peningkatan pada Februari 2026 setelah sebelumnya melemah selama beberapa bulan. Berdasarkan laporan resmi Food and Agriculture Organization (FAO), indeks harga pangan global menunjukkan tren pemulihan yang dipengaruhi lonjakan sejumlah komoditas utama.
FAO mencatat indeks harga pangan dunia berada di level rata-rata 125,3 poin. Angka tersebut naik 0,9 persen dibandingkan Januari. Kenaikan ini menjadi yang pertama setelah lima bulan berturut-turut mengalami penurunan.
Peningkatan terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak nabati dan serealia. Harga minyak nabati melonjak signifikan dan menyentuh posisi tertinggi sejak pertengahan 2022. Sementara itu, harga gandum ikut terdorong akibat gangguan cuaca di sejumlah negara produsen serta hambatan distribusi dari kawasan Laut Hitam.
Gula dan Produk Susu Justru Melemah
Di sisi lain, tidak semua kelompok komoditas mengalami penguatan. FAO melaporkan harga gula turun sekitar empat persen. Penurunan ini dipengaruhi proyeksi pasokan global yang membaik sehingga tekanan harga mereda.
Produk susu juga mencatat pelemahan. Koreksi harga terjadi terutama pada komoditas keju seiring turunnya permintaan impor di beberapa negara. Kondisi ini menahan laju kenaikan indeks harga pangan dunia secara keseluruhan.
Untuk komoditas daging, harga tercatat naik tipis. Permintaan yang stabil dari sejumlah negara menjadi faktor utama penopang kenaikan tersebut.
Secara tahunan, posisi harga pangan dunia masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, perubahan arah pada Februari menandakan adanya dinamika baru dalam perdagangan pangan internasional yang perlu dicermati.
Kenaikan indeks harga pangan dunia kerap menjadi indikator penting bagi stabilitas inflasi dan ketahanan pangan global. Banyak negara memanfaatkan data FAO sebagai rujukan dalam menyusun kebijakan sektor pangan dan perdagangan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com