Aktivitas pabrik China menunjukkan tren yang beragam pada Februari 2026, mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang tidak merata. Indeks PMI resmi dari National Bureau of Statistics mencatat angka 49,0, menandakan kontraksi sektor manufaktur untuk bulan kedua berturut-turut. Sementara itu, survei PMI swasta menunjukkan angka 52,1, mengindikasikan ekspansi di beberapa wilayah, termasuk Shanghai dan barat daya China. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sebagian sektor masih tumbuh, terutama yang bergantung pada permintaan ekspor, sedangkan sektor lain tertahan oleh melemahnya konsumsi domestik.
Dampak Perang Iran terhadap Ekspor China
Konflik yang terjadi di Iran menambah ketidakpastian bagi prospek ekspor China. Ketegangan di kawasan Timur Tengah mengganggu jalur transportasi utama seperti Selat Hormuz, sehingga meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi. Industri besar seperti otomotif dan baja menghadapi hambatan logistik yang menunda pengiriman ke Timur Tengah. Selain itu, pemerintah China meminta perusahaan kilang menangguhkan kontrak ekspor bahan bakar baru, guna menjaga pasokan domestik, yang turut menekan volume ekspor energi.
Kombinasi dari kondisi manufaktur yang beragam dan risiko geopolitik ini menimbulkan ketidakpastian tinggi bagi prospek ekspor China. Para analis memperkirakan kemungkinan pemerintah akan mengeluarkan kebijakan pendukung untuk merangsang pertumbuhan, terutama jika permintaan global terus melemah.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.