Bank investasi global Goldman Sachs baru-baru ini meningkatkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal kedua tahun 2026. Revisi tersebut mencerminkan meningkatnya risiko gangguan pasokan energi di pasar global.
Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent berada di kisaran US$66 per barel. Namun dalam laporan terbarunya, lembaga keuangan tersebut menaikkan proyeksi menjadi sekitar US$76 per barel, atau meningkat US$10 dari perkiraan sebelumnya.
Perubahan proyeksi ini terutama dipicu oleh potensi gangguan distribusi minyak dunia yang dinilai dapat menekan pasokan dalam jangka pendek.
Risiko Pasokan Global Dorong Revisi Proyeksi
Menurut analis Goldman Sachs, salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan proyeksi harga minyak Brent adalah meningkatnya risiko gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah.
Perhatian khusus tertuju pada jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia karena menjadi jalur transit bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas global.
Jika terjadi gangguan serius pada jalur tersebut, distribusi minyak dunia dapat terhambat. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga energi dalam waktu relatif singkat.
Selain faktor geopolitik, Goldman Sachs juga menyoroti beberapa aspek lain yang dapat mempengaruhi harga minyak Brent, seperti:
- potensi penurunan produksi minyak di beberapa negara penghasil utama,
- tingkat cadangan minyak global yang lebih rendah,
- serta ketidakpastian kondisi pasar energi internasional.
Harga Minyak Bisa Tembus US$100 dalam Skenario Ekstrem
Dalam analisisnya, Goldman Sachs menyebutkan bahwa harga minyak dapat melonjak lebih tinggi jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Sebagai contoh, jika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu selama beberapa minggu, harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga sekitar US$100 per barel.
Meski demikian, bank investasi tersebut menilai lonjakan harga ini kemungkinan bersifat sementara dan dipicu oleh faktor geopolitik jangka pendek.
Prospek Harga Minyak Jangka Menengah
Walaupun menaikkan proyeksi jangka pendek, Goldman Sachs justru memperkirakan harga minyak dapat kembali stabil pada periode berikutnya.
Untuk akhir tahun 2026, Goldman memperkirakan harga Brent berada di sekitar US$66 per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat, WTI, diperkirakan berada di kisaran US$62 per barel.
Dalam proyeksi jangka lebih panjang, harga minyak Brent pada 2027 diperkirakan berada di kisaran US$70 per barel, sedangkan WTI diprediksi sekitar US$66 per barel.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh risiko geopolitik dan gangguan distribusi energi global.
Sebagai hasilnya, pasar energi global diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam beberapa waktu ke depan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.