Amazon baru saja mengumumkan rencana belanja modal senilai US$200 miliar pada tahun ini, melonjak lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menjadi pengeluaran terbesar dalam sejarah perusahaan, menegaskan ambisi Amazon memperkuat teknologi dan infrastruktur bisnis.
Sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data AWS, robotika, chip, hingga proyek satelit internet. Langkah ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dan menjaga posisi Amazon di garis depan inovasi teknologi global.
Reaksi Pasar Saham
Kabar peningkatan belanja modal ini membuat saham Amazon terkoreksi, turun sekitar 8–11 persen di perdagangan setelah jam pasar. Investor menyoroti risiko pengeluaran besar yang berpotensi menekan laba dan arus kas perusahaan dalam jangka pendek, walaupun penjualan kuartal keempat tetap solid, terutama dari unit AWS dan pendapatan iklan.
Sejumlah analis menyebut bahwa pengeluaran besar ini bisa melampaui arus kas operasional, sehingga menimbulkan tekanan pada profitabilitas. Beberapa firma bahkan menurunkan rekomendasi saham Amazon, seiring kekhawatiran dampak belanja masif terhadap kinerja keuangan di tahun berjalan.
Strategi Jangka Panjang Amazon
CEO Amazon, Andy Jassy, menegaskan bahwa investasi besar ini adalah bagian dari strategi jangka panjang. Fokus utamanya adalah memperkuat sektor AI dan infrastruktur komputasi, untuk mendukung ekspansi layanan cloud dan inovasi teknologi.
Langkah Amazon juga menjadi bagian dari persaingan sengit dengan perusahaan besar lain, seperti Microsoft, Google, dan Meta, yang sama-sama meningkatkan pengeluaran untuk AI dan teknologi cloud. Meski tekanan pasar muncul, Amazon yakin investasi ini akan menghasilkan keuntungan strategis di masa depan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






