Tarif 100% Film Luar Negeri: Ancaman Baru bagi Industri Streaming dan Produksi Hollywood

tarif 100% film
Sumber Foto : Freepik

Saham perusahaan streaming dan produksi film di Amerika Serikat mengalami penurunan tajam pada hari Senin, setelah Donald Trump mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif 100% film luar negeri. Langkah ini berisiko meningkatkan biaya produksi secara drastis dan mengganggu rantai pasok global industri hiburan.

Pengumuman Trump melalui platform Truth Social langsung memicu kekhawatiran baru tentang kebijakan perdagangan AS dan potensi dampaknya terhadap perekonomian global. Ia menyatakan bahwa Departemen Perdagangan dan Perwakilan Dagang AS telah diminta untuk mulai memproses kebijakan tersebut. Namun, belum ada kejelasan apakah tarif akan diterapkan pada film yang tayang secara digital (streaming) maupun di bioskop, atau apakah dasar perhitungannya berdasarkan biaya produksi atau pendapatan box office.

Reaksi pasar langsung terasa. Saham Netflix turun 1,7%, Amazon anjlok 1,5%, sementara Warner Bros Discovery dan Paramount masing-masing kehilangan 1,1% dan 1%. Indeks Nasdaq yang banyak dihuni perusahaan teknologi juga melemah 0,6%.

Langkah ini dinilai berpotensi memukul Netflix secara khusus karena perusahaan tersebut mengandalkan jaringan produksi global untuk menghadirkan konten bagi penonton internasional. Saham dua operator bioskop ternama, Cinemark dan Imax, juga ikut turun masing-masing 2% dan 3%.

Produksi Global Terancam, Biaya Bisa Membengkak

Selama bertahun-tahun, studio Hollywood telah memindahkan proses produksi ke luar negeri — seperti ke Inggris, Kanada, dan Australia — demi memanfaatkan insentif pajak dan efisiensi biaya tenaga kerja. Dampaknya, banyak film pemenang penghargaan bahkan tidak lagi diproduksi di AS.

Survei ProdPro terhadap eksekutif studio menunjukkan bahwa lima lokasi produksi terfavorit untuk periode 2025–2026 semuanya berada di luar negeri. Artinya, jika kebijakan tarif ini diterapkan, industri akan dipaksa kembali memproduksi film di dalam negeri. Hal ini bisa menyebabkan lonjakan biaya dan kekacauan dalam sistem produksi global yang selama ini melibatkan pengambilan gambar di Eropa, pascaproduksi di Kanada, serta efek visual di Asia Tenggara.

Analis media dari PP Foresight, Paolo Pescatore, menyebut bahwa kebijakan ini tampaknya belum akan segera dijalankan. Namun jika benar terjadi, ujarnya, “Biaya tambahan akan dibebankan ke konsumen.”

Analis Rosenblatt Securities, Barton Crockett, menambahkan, “Hampir semua studio kini giat memangkas biaya dengan memindahkan produksi ke luar negeri. Jika biaya produksi melonjak, jumlah film yang dibuat kemungkinan akan menurun.”

Reaksi Global dan Kekhawatiran Lapangan Kerja

Kebijakan ini tak hanya berdampak pada industri di AS. Di Inggris, serikat pekerja media Bectu mendesak pemerintah untuk melindungi sektor film nasional yang dinilai krusial. Mereka memperingatkan bahwa puluhan ribu pekerjaan freelance di bidang ini bisa terancam.

Langkah Trump yang kontroversial ini menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem industri kreatif yang selama ini bergantung pada kolaborasi internasional. Dengan tarif 100% film luar negeri, ketidakpastian kini menghantui para pelaku industri hiburan di seluruh dunia.


Baca artikel menarik lainnya di sini:
Temukan insight terbaru seputar tren bisnis dan digital marketing hanya di roledu.com

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *